Mainan yuk!!,Lomba Capung Mecahin Balon

Cari Blog Ini

0

Ahli Jepang Benarkan Prediksi Gempa Sumatera

Sabtu, 27 November 2010.

Ahli Jepang Benarkan Prediksi Gempa Sumatera

PADANG (Berita SuaraMedia) - Ahli gempa dari Jepang, Goto Yozo membenarkan prediksi gempa yang akan terjadi di Sumatera. Prediksi ini sempat ramai dibicarakan pascagempa di Sumatera Barat akhir tahun lalu.

Menurutnya, gempa akan lebih besar dibanding gempa di Padang dan kemungkinan besar akan terjadi di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Dikatakan Goto, prediksi ini berdasarkan hasil penelitian timnya. Hal ini disampaikan dalam acara seminar bersama dengan Pemerintah Kota Padang yang diikuti camat se-Kota Padang, Jumat (22/1/2010).

"Gempa di celah Mentawai akan terjadi. Dari hasil penelitian kami, intensitasnya akan sering dan lebih besar. Waktu getar lamanya akan lebih panjang termasuk durasinya," jelas Goto.

Namun Goto mengimbau agar warga tidak panik dengan prediksi ini. "Yang terpenting adalah siaga," imbuhnya.

Lebih lanjut dia menuturkan, gempa ini kemungkinan disertai tsunami.

Sebelumnya, ramai isu akan terjadi gempa bumi. Isu ini muncul setelah adanya peringatan dari para pakar gempa Eropa bahwa gempa berskala besar akan terjadi di Sumatera.

Peringatan tersebut ditulis melalui surat yang dikirimkan ke jurnal terkemuka Nature Geoscience. Para ilmuwan itu dipimpin John McCloskey, seorang profesor Institut Penelitian Ilmu Lingkungan dari Universita Ulster, Irlandia Utara.
Para ahli menyebut, bahaya gempa datang dari bertambahnya tekanan terus-menerus selama dua abad di bagian patahan Sunda. Patahan Sunda merupakan salah satu zona gempa paling berbahaya di dunia yang membentang sepanjang perairan Sumatera bagian barat. Termasuk bagian itu adalah Kepulauan Mentawai yang berada "di ambang kerusakan".

Sementara itu, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat diprediksi menjadi "target" gempa bumi berkekuatan besar, melebihi gempa di Padang pada akhir tahun lalu. Mengapa Mentawai? Berikut penjelasan ahli asal Jepang.

Ahli gempa asal Jepang, Goto Yozo menuturkan, hal ini terkait siklus gempa. Seperti diketahui pada 2004 gempa terjadi di Aceh, lalu Nias, Bengkulu, dan terakhir di Padang Pariaman.

"Namun Mentawai belum terjadi pergeseran, nah di situlah yang membuat para ahli yang memprediksi gempa mengatakan akan terjadi gempa di Mentawai," ujar Goto dalam acara seminar bersama dengan Pemerintah Kota Padang yang diikuti camat se-Kota Padang.

Yang penting, katanya, pemerintah harus menyiapkan gedung atau bangunan yang kuat untuk tempat evakuasi kalau datang tsunami.

Lalu kapan waktu terjadinya gempa, Goto belum bisa memprediksi. "Gempa ini tidak bisa diprediksi, termasuk kami di Jepang. Jadi tetap siaga, bisa jadi besok atau sepuluh tahun lagi," tandasnya.

Mengenai adanya isu gempa susulan di sejumlah wilayah lainnya termasuk di Jakarta, Goto mengatakan para ahli gempa belum memprediksi. "Yang jelas Mentawai diprediksi akan terjadi gempa," pungkas dia.(ok2) www.suaramedia.com
Leia Mais...
0

Prediksi Gempa Sumatera Dibenarkan Ahli dari Jepang

Prediksi Gempa Sumatera Dibenarkan Ahli dari Jepang

Jum'at, 22 Januari 2010 - 15:50 wib
Rus Akbar - Okezone
PADANG - Ahli gempa dari Jepang, Goto Yozo membenarkan prediksi gempa yang akan terjadi di Sumatera. Prediksi ini sempat ramai dibicarakan pascagempa di Sumatera Barat akhir tahun lalu.

Menurutnya, gempa akan lebih besar dibanding gempa di Padang dan kemungkinan besar akan terjadi di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Dikatakan Goto, prediksi ini berdasarkan hasil penelitian timnya. Hal ini disampaikan dalam acara seminar bersama dengan Pemerintah Kota Padang yang diikuti camat se-Kota Padang, Jumat (22/1/2010).

“Gempa di celah Mentawai akan terjadi. Dari hasil penelitian kami, intensitasnya akan sering dan lebih besar. Waktu getar lamanya akan lebih panjang termasuk durasinya,” jelas Goto.

Namun Goto mengimbau agar warga tidak panik dengan prediksi ini. “Yang terpenting adalah siaga,” imbuhnya.

Lebih lanjut dia menuturkan, gempa ini kemungkinan disertai tsunami.

Sebelumnya, ramai isu akan terjadi gempa bumi. Isu ini muncul setelah adanya peringatan dari para pakar gempa Eropa bahwa gempa berskala besar akan terjadi di Sumatera.

Peringatan tersebut ditulis melalui surat yang dikirimkan ke jurnal terkemuka Nature Geoscience. Para ilmuwan itu dipimpin John McCloskey, seorang profesor Institut Penelitian Ilmu Lingkungan dari Universita Ulster, Irlandia Utara.

Para ahli menyebut, bahaya gempa datang dari bertambahnya tekanan terus-menerus selama dua abad di bagian patahan Sunda. Patahan Sunda merupakan salah satu zona gempa paling berbahaya di dunia yang membentang sepanjang perairan Sumatera bagian barat. Termasuk bagian itu adalah Kepulauan Mentawai yang berada "di ambang kerusakan".(lsi)
(mbs)
Leia Mais...
0

Prediksi Gempa Padang Mentawai 8,9SR Tim 9


PETA LOKASI GEMPA PADANG SUMATERA BARAT - Prediksi Gempa Padang Mentawai 8,9SR Tim 9. Masyarakat Jadi Resah Adanya Info Gempa Bumi 8,9 SR skala richter di Padang Sumbar dan Potensi Sunami yang disampaikan Tim 9 Ahli Geologi Terpercaya. Ulama Sumatera Barat, Buya Mas'oed Abidin mengimbau masyarakat untuk tidak resah menyikapi pemberitaan media tentang hasil penelitian para ahli geologi mengenai adanya prediksi gempa yang akan terjadi dengan kekuatan mencapai 8,9 skala richter (SR).

"Masyarakat tidak perlu resah menyikapi prediksi gempa Padang tersebut dan seharusnya berterimakasih kepada media dan ahli yang telah menyampaikan informasi tentang adanya potensi gempa yang akan terjadi sehingga kita bisa lebih berhati-hati dan mawas diri menghadapinya," kata ulama Sumatera Barat, Buya Mas'oed Abidin di Padang, Rabu.

http://hdmessa.files.wordpress.com/2007/01/muaro-padang.jpg

Hal tersebut disampaikannya terkait pemberitaan sejumlah media yang menginformasikan adanya potensi gempa besar akan terjadi di Sumbar yang dipaparkan oleh ahli geologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Danny Hilman Natawijaya pada acara kajian kebencanaan yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Selasa (12/10).

http://zulfadli.files.wordpress.com/2007/06/pantai-padang-004.jpg

Menurut Buya Maso'ed Abidin informasi dari ahli yang berwenang tentang potensi gempa tersebut harus disikapi dengan arif dan merupakan perkembangan ilmu pengetahuan yang perlu diapresiasi sehingga bisa menumbuhkan kesiapan menghadapi gempa jika terjadi.


"Masyarakat harus memahami musibah tidak mesti datang melalui gempa saja, jika memang ditetapkan akan terjadi musibah bisa terjadi dalam bentuk apapun, dan jika yang dikhawatirkan adalah ancaman kematian maka itu tidak perlu dipersoalkan karena kematian bisa datang kapan saja tanpa adanya gempa," lanjutnya.

 
http://tfrisya.files.wordpress.com/2009/12/rmhgadang.jpg

Dikatakannya, yang perlu ditumbuhkan adalah sikap kehati-hatian seandainya gempa datang masyarakat bisa lebih tenang menghadapinya sehingga korban jiwa dan kerusakan bisa diminimalisir.


"Tidak bisa di pungkiri Sumatera Barat merupakan daerah yang rawan gempa karena dilalui lempeng dan patahan yang sewaktu- waktu bisa bergeser sehingga menimbulkan gempa, karenanya dituntut kearifan terhadap ilmu pengetahuan dan tanda-tanda alam," kata dia.


Di Minangkabau, lanjut Buya Mas'oed juga dikenal falsafah alam takambang jadi guru yang berarti orang minang telah ditanamkan nilai untuk senantiasi berguru kepada alam yang banyak memberikan pelajaran berharga.


"Kita berharap gempa tersebut tidak terjadi , namun jika memang musibah gempa tersebut akan terjadi mari kita sama-sama berdoa agar Allah tidak mendatangkan musibah diluar kesanggupan kita untuk menghadapinya," lanjut dia.

 



Kepada pemerintah, Buya Maso'ed berharap agar mendidik dan menyosialisasikan pada masyarakat tentang bagaimana langkah-langkah yang harus diambil jika gempa terjadi agar lebih siap sehingga meminimalisir terjadinya korban jiwa. antara-sumbar.com


gempa bumi, gempa bumi padang sumbar, gempa mentawai, gempa bumi padang 8,9sr, ancaman sunami terbaru,
prediksi gempa padang sumbar 8,9 sr, potensi gempa jakarta, gempa bumi di jakarta, gempa indonesia terbaru, penyebab gempa bumi di indonesia, gempa jakarta terbaru 2011, prediksi terjadinya gempa di jakarta 9sr, kapan gempa bumi jakarta 9 sr akan terjadi
Leia Mais...
0

Prediksi Indonesia di Tahun 2030

Selasa, 16 November 2010.
Prediksi Indonesia di Tahun 2030

Sebelum kita memasuki tulisan inti, ada baiknya kita menengok lebih dalam makna dari kata "prediksi" itu sendiri.
saya pribadi berpendapat bahwa makna prediksi tidak bisa disamakan dg ramalan, meskipun keduanya bersifat mencoba membaca sesuatu yg akan terjadi (visi), namun keduanya memiliki 'metodology' yang berbeda sebagai pijakan.

Kegiatan ramal meramal sudah dikenal manusia sejak jaman bahula, dalam bibel atau al qur'an juga dikisahkan tentang nabi Yusuf, yang piawai dalam meramal makna mimpi, karena kemampuan meramal inilah beliau akhirnya menemukan kemuliaan hidupnya.

Kita juga mengenal Nostradomus (1503 - 1566) juga sangat diyakini sebagai peramal yg handal, banyak orang percaya bahwa Nostradomus mampu membaca kejadian2 besar dunia jauh kemasa depan, bahkan berani meramal kalau dunia akan berakhir th 3797.

Di Indonesia, tanah jawa, kita mengenal penyair besar; Ronggo Warsito, yg juga dipercaya sebagai peramal yg ramalan-ramalan 'terbukti' terjadi kalau kita mau menggunakan ilmu 'gotak-gatik-gatuk', masuknya penjajah Belanda ke bumi nusantara, yg kemudian disusul dg masuknya 'bangsa kuning' yg seumur jagung (penjajah Jepang), sudah ada dalam ramalan sang pujangga yang bisa kita buktikan kebenarannya.

Dalam dunia ilmu hitam/ sihir, kita mengenal 'bola dunia' atau 'cermin wasiat' yg biasa digunakan para canayang sebagai alat utk meramal, ada juga yg menggunakan telor sebagai media utk meramalnya, apapun medianya, kesamaan prinsip disini adalah bahwasanya ramal meramal merupakan kegiatan mistis yg tidak logis,namun terkadang bisa terbukti kebenarannya, entah karena kebetulan atau karena memang si peramal memili visi yg kuat.

Setelah kita tahu sedikit soal apa itu meramal, kita beranjak untuk memahami makna prediksi, memprediksi sesuatu pada hakekatnya sama dg meramal sesuatu, cuma metodology atau pendekatan yg digunakan tidak sama. Kalau meramal cuma mengandalkan hal-hal yg sifatnya gaib (sekalipun hal itu dilakukan oleh astronom handal), sementara 'prediksi' menggunakan variabel-variabel yg terkait satu sama lain sehingga membentuk satu visi yg terstruktur dan secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan.

Saya katakan secara 'ilmiah' karena variabel-variabel yg kita jadikan bahan untuk memprediksi sesuatu tersebut bisa kita perdebatkan salah atau benarnya.

Saya lebih suka menyebut pendekatan prediksi ini dg kata "membaca kecenderungan".

Kita ambil contoh prediksi akan satu pertandingan sepak bola, utk memprediksi tim mana yg akan unggul, kita bisa lihat beberapa hal yg akan mendukung kebenaran prediksi kita, misalnya; kualitas individu di team yg kita prediksi akan menang, kualitas pelatih, atmostfer ruang ganti team, dan trend team di laga-laga terakhir mereka, biasanya; acuan seperti ini memiliki tingkat akurasi kebenaran mendekati 80%, sisanya ditentukan oleh faktor non technis, jangan lupa, dalam banyak hal, faktor non technis ini terkadang malah lebih dominan sebagai wakil dari apa yg kita sebut sebagai kebenaran, mungkin inilah cara sang maha pencipta utk mengolok-olok arogansi manusia.

Okey, kita masuki tulisan inti.
Untuk memprediksi indonesia di tahun 2030, jelas bukan pekerjaan yg mudah, kecuali kalau kita mau asal meramal, artinya kita tidak menggunakan 'metode ilmiah' (ingat tanda petik), asal nyeplos dan asal bersuara, meskipun 'metode' ini juga kadang benar adanya, seperti kata saya tadi, sang maha pencipta memang suka mempermainkan orang-orang yg hiper arogan.

Saya tak akan berani mengatakan bahwa prediksi saya ini nantinya akan menjadi kenyataan, namun dg paparan dan agumentasi yg akan saya sodorkan, anda sekalian bisa mengira-ira apakah saya asal njeplak atau anda akan mengakui bahwa prediksi saya bisa 'dibenarkan' secara nalar.

Utk mempermudah memprdiksi, saya akan membagi masa indonesia setelah merdeka menjadi tiga fase;
1. Fase pertama yaitu jaman Orde Lama
2. Fase kedua, masa Orde Baru, dan
3. Fase ketiga adalah masa/ era reformasi.

Kemudian, kita akan meninjau sekilas apa-apa yg terjadi di ketiga fase tersebut dari sisi sosial politik, tradisi budaya dan trend yg terjadi dalam masyarakat di tiga fase yg berbeda tadi.

1. Fase pertama; Masa Orde Lama,
Orde lama berkuasa relatif lama, sekitar 16 tahun, fase ini adalah masa-masa yg paling berat bagi bangsa dan negara, masa transisi ini penuh dg konflik, baik ditingkat elit maupun akar rumput, hal mana karena ekpekstasi yg berlebihan dari tiap-tiap individu setelah mereka memiliki negara sendiri, bisa mengelola kekayaan negeri sendiri dan 'mengira' bahwa dg modal kemerdekaan mereka bisa otomatis menjadi berkuasa dan kaya, mereka lupa bahwa mendirikan negara yg besar dg latar belakang masyarakat/ rakyat yg sedemikian majemuk, dg kondisi geografis yg paling katastrof didunia (indonesia adalah negara kepulauan terbesar didunia), maka mengira modal kemerdekaan saja sudah cukup untuk menyongsong masa depan yg cerah malah berbalik menjadi bencana, kondisi perpolitikan terus memanas, banyak terjadi pemberontakan baik berdasar ideology maupun rasa ketidakpuasan dari para sesama pejuang karena perbedaan cara pandang akan makna kemerdekaan dan cara mengisinya.

Kondisi politik suatu negara adalah acuan utama utk melihat kemajuan negara yg bersangkutan. Pada masa ORLA, karena kondisi politik sedemikian panas, sementara militer masih terkotak-kotak dalam ideology masing-masing, maka perang fisik bisa terjadi kapan saja, para pejuang kita lupa bahwa negara ini diidamkan dan didirikan oleh semua masyarakat indonesia terlepas dari apa ideology mereka.

Masa2 itu kita mengenal adanya pemberontakan PRRI/PERMESTA, DI/TII atau juga PKI Madiun dan buntutnya G30/S PKI.

Utk kasus terakhir, tak satu orangpun mampu mengungkap apa yg terjadi masa itu, banyak theory konspirasi yg bermunculan.

Karena pada masa itu pemerintah hanya sibuk mengurusi perpolitikan, maka sektor ekonomi menjadi terbengkalai, rakyat kecil yg dulu sangat berharap meningkat taraf kehidupan mereka meningkat pasca kolonialisme belanda (Hindia Belanda), ternyata nasib mereka bisa dikatakan sama atau malah lebih miskin dibanding masa penjajahan dulu.

2. Fase ke dua, masa Orde Baru.
saya yakin ORBA dibawah Soeharto akan tercatat dalam sejarah sebagai masa rezim berkuasa terlama dalam sejarah Indonesia sampai kapanpun, jadi bagi yg anti ORBA, silahakn bersiap-siap utk sakit hati menerima kenyataan bahwa ORBA akan mencatatkan diri dalam museum record indonesia sbg rezim yg terlama berkuasa di bumi nusantara dg segala kekurangan dan kelebihannya.

Dimata saya, Soeharto adalah seorang manager yg handal, seorang ahli strategy yg sulit dicari bandingannya di bumi nusantara, mungkin akan sejajar dgn kemasyuran Maha patih Gajah Mada di jaman majapahir dulu, kesamaan keduanya adalah kenekatan mereka dan cara mereka yg suka menghalalkan segala cara demi tercapainya cita-cita mereka. Sepak terjang Soeharto saya percaya anda sudah tahu, jadi tidak perlu dibahas lebih jauh, sementara 'kejahatan' Gajah Mada terlihat jelas saat Majapahit menaklukkan tanah Pasundan, perang Bubat tersebut menunjukkan betapa cerdik dan ahlinya Gajah Mada dalam strategy perang dan cara meraih kekuasaan, sekaligus menunjukkan betapa segala cara adalah sah dan halal asal tujuan tercapai.

Prestasi terbesar soaharto bagi dunia perpolitakn indonesia adalah keberanian beliau utk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya azas dan ideology negara, andai saja Soeharto dan kroninya tidak gila harta dan kekuasaan, maka masa ORBA akan diwarnai dg masa keemasan dari sisi ekonomi, meskipun akan merupakan masa paling otoriter dalam sejarah indonesia pasca kemerdekaan.

Dengan hanya memiliki satu idology (yang dipaksakan), kinerja pemerintahan relatif mudah dalam menata masyarakat dan membangun perekonomian.

Konflik antar golongan karena faktor ideology (agama) bisa diminimalis, faham komunis resmi di larang, walaupun hal ini bertentantangan dg hak azasi manusia, namun cara ini ternyata cukup efektif utk meredam kengototan kaum kanan (islam garis keras) utk menjadikan indonesia sebagai negara islam.

3. Fase ke tiga, era Reformasi.
Semestinya, masa setelah ORBA ini kesempatan kita utk maju lebih pesat bisa dicapai, karena kebebasan tiap-tiap individu lebih dihargai. Juga, pemerintah jauh lebih transparant, kehidupan demokratis bisa kita nikmati, lembaga legislatif yg notabene adalah bentuk pengejawantahan rakyat (yang kemudian menjadi bentuk pengejawantahan partai)memilii kekuasaan yg benar2 'setara' dg lembaga eksekutif.

Kenyataannya, masa reformasi tidak jauh berbeda dg masa ORBA, korupsi tetap marak, kemiskinan dan pengangguran tetap menjadi momok menakutkan, ditambah lagi, sikap lembek pemerintah terhadap garis keras islam, lahirnya OTDA malah menjadi semacam bumerang yg memukul balik negeri ini utk mundur beberapa langkah kebelakang.

Seperti kata saya diawal, masyarakat Indonesia ini sangat majemuk, negeri ini terdiri dari ribuan pulau, ada puluhan aliran kepercayaan, banyak suku dan terdiri atas beberapa ras, dgn kenyataan seperti itu, adalah sangat NAIF kalau kita ngotot untuk menjadikan hukum agama sebagai dasar hukum verbal. Karena sikap ngotot ini, maka timbul sikap saling curiga dan waspada, kepercayaan antara sesama anak bangsa menjadi luntur.

Yang terburuk dimata saya di era reformasi ini adalah maraknya partai partai politik yg mengusung agama sebagai basic perjuangan mereka, bukan berarti saya orang yg menentang agama atau orang yng tidak beragama, namun -sekali lagi- kalau agama dibawa ke ruang publik, yang terjadi hanyalah silang sengketa.

Masa reformasi sudah memasuki tahun ke 12, namun ternyata keadaan negeri ini tidak membaik secara significan, baik disektor perekonomian maupun di sektor sosial politik, bahkan nyaris saja kebebasan pers kita juga terampas karena piciknya cara pandang elit dalam melihat satu fenomena kamajuan technologi.

***

Dengan berbekal sedikit kilas balik tadi, sekarang saya akan memulai memprediksi seperti apa kira-kira keadaan indonesia secara umum pada tahun 2030 nanti.

Melihat kecendeurangn apa yang terjadi di ketiga fase tadi, rasanya 20 tahun kedepan kondisi indonesia tidak akan jauh berubah, apa artinya 4 kali PEMILU kalau kualitas pemilih dan yang dipilih tidak mengalami perkembangan yg cukup significan setelah 65 tahun kita merdeka.

Kalau kita tidak mengubah cara pandang kita terhadap bangsa dan negara, terhadap makna nasionalisme dan pluralisme, maka seribu tahun lagipun kondisi kita akan tetap sama, saling cakar dan mau menang sendiri, puas dg kesenangan diatas penderitaan orang lain yg notabene adalah saudara sebangsa dan setanah air kita, terlepas dari apa suku, ras, agama dan kepercayaan mereka.

Mengharap akan terjadi perubahan besar dalam kurun waktu 20 tahun rasanya sangat naif bagi bangsa ini, hal ini kalau kita mengacu pada ketiga fase yg saya kemukakan diawal tadi.

Tentu saja, dibidang IPTEK kita juga akan mengalami kemajuan seiring dg pesatnya kemajuan dunia IPTEK itu sendiri. Kalau dulu Habibi selalu berjargon bahwa penguasaan iptek adalah kunci dari sebuah kemajuan suatu bangsa, maka saya adalah termasuk orang yg tidak menyetujuinya, bagi saya, kunci dari kemajuan suata bangsa/negara adalah terjaminnya stabilitas politik negara tersebut. Penguasaan IPTEK oleh anak bangsa hanyalah sebagai sarana penunjang demi tercapainya indonesia sebagai negara maju dan modern.

Tanpa ada stabilitas politik, maka sektor lainnya juga akan mandek, karena mustahil bagi kita untuk membangun kalau kita selalu disibukkan dengan konfli.

Ambil contoh simple saja, kita bisa lihat bagaimana pemerintah dan DPR menghabiskan waktu, engery dan dana hanya untuk membahas kasus bank Century?

Baik yang pro atau yang kontra, eyel-eyelan dan politisasi kasus Cnetury ini menunjukkan betapa kerdilnya mentalitas baik elit maupun ditingkat akar rumput, mereka suka mencari ranah abu-abu dg apa yang mereka sebut "kebenaran", padahal, bagi masyarakat modern, semua bisa dikatakan benar atau salah bila sesuai atau tidak sesuai dgn apa yang telah menjadi kesepakatan kita dalam komitment untuk hidup bersama dalam satu wilayah negara dgn apa yang kita sebut UU/aturan hukum.

***

Tinjauan dari sisi budaya dan tradisi berfikir masyarakat indonesia.
Meskipun Nusantara tidak hanya tanah jawa, namun secara de facto bisa kita lihat bahwa budaya dan tradisi berfikir masyarakat indonesia dalam memilih pemimpin dan atau ingin di pilih sebagai pemimpin sangat kental dengan 'unggah ungguh' kejawen yg hipokrit.

Anda bisa analisa, semua pemimpin yang pernah menjadi presiden RI bukanlah type 'ambisius' (ingat dg tanda petiknya), mereka cenderung malu-malu tapi mau untuk maju sebagai pemimpin bangsa, mereka tidak mau secara vulgar ingin mengajukan diri sebagai pemimpin bangsa, hal mana karena tradidi Jawa menabukan hal-hal seperti itu, dgn 'kehalusan' diplomasi mereka, mereka ingin publik yg menilai mereka dg melihat tutur kata dan sikap mereka yg diluar nampak kalem, nrimo dan -seperti tadi- tidak seperti orang yang ambisius.

Sikap hipokrit itu terjaga sangat baik sejak jaman Majapahit atau malah sebelumnya, dalam hikayah atau cerita legenda Jawa, manusia2 yang ambsius selalu digambarkan sebagai watak yang serakah (maruk), gila kekuasaan, harta dan gila hormat, alhasil, bila ada seorang manusia Indonesia yg gigih ingin mengajukan diri sebagai presiden/ pemimpin, betapapun bagus visi mereka, betapapun bersih track record mereka, namun kalau secara vulgar mereka menunjukkan sikap 'ambisi'nya yg besar untuk menjadi pemimpin bangsa, bisa dipastikan mereka akan dijauhi oleh publik dan bahkan akan di cap sebagai orang yg gila kekuasaan.

Figur2 yg 'ambisius' ini bisa anda temukan dalam sosok Sutiyoso, Amin Rais, atau juga Prabowo. Typical mereka yg jujur dan suka blak kutang (no bra dalam bahasa nambibia)menjadikan mereka dicibir oleh sebagian besar masyarakat kita, padahal kalau kita mau melihat dg cara obyektif, justru manusia2 type ini yg jelas-jelas memiliki visi dan NIAT yang kuat untuk merubah status quo, kegemaran bangsa ini untuk menjunjung tinggi status quo karena lebih suka mencari jalan aman ini adalah salah satu faktor mengama bangsa ini sukar untuk maju.

Yang lebih menyedihkan, peran media massa yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam membentuk paradigma baru yang lebih hidup dan dinamis malah sering kali bersikap kolot dan partisan, ini benar-benar wacana paling buruk bagi negara berkembang yang ingin maju.

Kita bisa bandingkan bagaimana cara elit diluar negeri (negara maju yang demokratis macam USA dan eropa pada umumya) dengan cara elit di indonesia dalam usaha meraih kursi kepemimpinan.

Di LN, keinginan besar untuk menjadi pemimpin ini malah dihargai, karena secara logis, mereka mereka yang benar2 punya niat untuk menjadi pemimpin suatu negara pastilah memiliki visi dan konsep yang kuat untuk merubah negara mereka menjadi lebih baik, soal goal atau tidaknya, soal efek efek negatif dari sisi 'ambisius'nya, disitu sudah ada rambu-rambu yang akan mengontrol mereka bila mereka menyalah artikan makna 'ambisius' ke arah yang negatif.

Kelebihan manusia-manusia yang berani secara vulgar menyuarakan keinginan mereka untuk berkuasa atau yang sering kita sebut dg 'ambisius' dg konotasi yang cenderung negatif adalah bahwasanya mereka cenderung berani bertanggung jawab, punya visi dan tekad yang kuat, type manusia yang tidak gampang menyerah pekerja keras, bagi mereka tidak menganal apa itu istilah apologetik, yang merupakan kebalikan dari type2 manusia yang malu-malu tapi mau untuk menjadi pemimpin bangsa, type yang malu-malu tapi mau ini cenderung suka melempar kesalahan ke orang lain, kalau mereka gagal dalam tugas, mereka akan dengan enteng mengatakan; saya memimpin kan karena suara rakyat, karena karena kalian yang memilih saya, dan seribu macam bentuk apologetik lainnya.

Kalau bangsa kita ingin maju, maka kita harus mengubah paradigma kuno kita yang kolot dan hipokrit.

***

Seperti di awal tulisan saya ini, prediksi tidak sama dengan ramalan.
Paparan saya diatas adalah bentuk prediksi dari saya, kalau judulnya hanya hanyalah soal 'ramalan', maka bisa saja dengan mudah kalau saya katakan bahwa tahun 2030 nanti indonesia akan menjadi negara super power melebihi China atau USA, saya tidak perlu memaparkan dasar ramalan saya dgn argumentasi, toh makna dari ramalan itu sendiri adalah membaca situasi yang belum terjadi dengan cara yg mistis, gaib atau kalau dalam bahasa yang vulgar bisa saya katakan 'ngawur'.

Saya sebut 'ngawur' karena ANDAI saja orang lain tidak mampu meng-gotak gatik gatuk-an isi ramalannya sehingga seolah apa yang diramal oleh seseorang itu terbukti benar, maka siperamal, entah itu Ki Ranggo Warsito atau juga Nostradomus akan memiliki predikat ini: ngawur.
Leia Mais...
0

Prediksi tahun 2015 indonesia akan pecah berkeping-keping

Prediksi tahun 2015 indonesia akan pecah berkeping-keping


  • Muhammad Qomarudin
    Djuyoto Memprediksi Tahun 2015 Indonesia Pecah. BERAGAM reaksi dan tanggapan muncul ketika wacana tentang masa depan Indonesia, yang juga dijadikan judul buku oleh Djuyoto Suntani, itu muncul dalam acara Dialog Kebangsaan berjudul Indonesia: Kemarin, Kini dan Esok sekaligus peluncuran buku tersebut. Komentar bernada pesimis, optimis, hingga rasa tidak percaya silih berganti diberikan oleh berbagai pihak yang hadir di Gedung Aneka Bhakti Departemen Sosial kemarin. Mungkinkah Indonesia benar-benar akan "pecah" pada tahun 2015?

    Djuyoto Suntani, sang penulis buku, menyatakan dalam bukunya paling tidak ada tujuh faktor utama yang akan menyebabkan Indonesia ?pecah? menjadi 17 kepingan negeri-negeri kecil di tahun 2015. Kepingan negeri-negeri kecil itu sendiri menurutnya didirikan berdasarkan atas:

    1. Kepentingan rimordial (kesamaan etnis),
    2. Ikatan ekonomis (kepentingan bisnis),
    3. Ikatan kultur (kesamaan budaya),
    4. Ikatan ideologis (kepentingan politik), dan
    5. Ikatan regilius (membangun negara berdasar agama).

    Penyebab pertama adalah siklus tujuh abad atau 70 tahun. Dalam bukunya ia menuliskan;
    ?Seperti kita ketahui, semua yang terjadi di alam ini mengikuti suatu siklus tertentu. Eksistensi suatu bangsa dan negara juga termasuk dalam suatu siklus yang berjalan sesuai dengan ketentuan hukum alam. Dia mengambil contoh Kerajaan Sriwijaya yang berkuasa pada abad 6-7 M di mana waktu itu rakyat di kawasan Nusantara bersatu di bawah kepemimpinannya. Memasuki usia ke-70 tahun kerajaan itu mulai buyar dan muncul banyak kerajaan kecil yang mandiri berdaulat. Alhasil, di awal abad ke-9 nama Kerajaan Sriwijaya hanya tinggal sejarah. Tujuh abad kemudian (abad 13-14 M) lahir Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur sekarang. Kerajaan besar itu berhasil menyatukan kembali penduduk Nusantara. Namun, kerajaan ini pun bernasib sama dengan Sriwijaya. Memasuki usia ke-70 pengaruhnya mulai hilang dan bermunculanlah kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara. Nama Majapahit pun hilang ditelan bumi. Tujuh abad pasca-jatuhnya Majapahit, di tahun 1945 (abad 20) rakyat Nusantara kembali bersatu dalam suatu ikatan negara bangsa bernama Republik Indonesia (abad 20-21). Tahun 2015 akan bertepatan RI merayakan HUT-nya yang ke-70″.

    Dia pun menyatakan,
    ?Selama ini saya selalu optimis, tapi melihat perkembangan di lapangan, apa yang terjadi pada sesama anak bangsa, sungguh mengenaskan. Irama perpolitikan nasional dewasa ini mengisyaratkan hitungan siklus bersatu dan bubar dalam tujuh abad, 70 tahun tampaknya kembali terulang. Berbagai fenomena alam yang menguat ke arah bukti kebenaran siklus sudah banyak kita saksikan. Pertengkaran sesama anak bangsa, terutama elite politik, tidak kunjung selesai, tulis Djuyoto. Penyebab kedua, Indonesia telah kehilangan figur pemersatu bangsa. Setelah Ir Soekarno dan HM Soeharto, tidak ada tokoh nasional yang benar-benar bisa mempersatukan bangsa ini. Masing-masing anak bangsa selalu merasa paling hebat, paling mampu, paling pintar, dan paling benar sendiri. Para tokoh nasional yang memimpin negeri ini belum menunjukkan berbagai sosok negarawan karena dalam memimpin lebih mengutamakan kepentingan politik golongan/kelompok daripada kepentingan bangsa (rakyat) secara luas. Kehilangan figur tokoh pemersatu adalah ancaman paling signifikan yang membawa negeri ini ke jurang perpecahan?. Katanya tegas.

    Pertengkaran sesama anak bangsa yang sama-sama merasa jago dan hebat, masing-masing punya kendaraan partai, punya jaringan internasional, punya dana/uang mandiri, punya akses, merasa punya kemampuan jadi Presiden; merupakan penyebab ketiga Indonesia akan pecah berkeping-keping menjadi negara-negara kecil. Masing-masing tokoh ingin menjadi nomor satu di suatu negara. Fenomena ini sudah menguat sejak era reformasi yang dimulai dengan diterapkannya UU Otonomi Daerah.

    Salah satu penyebab Indonesia akan pecah di tahun 2015 karena adanya konspirasi global. Ada grand strategy global untuk menghancurkankeutuhan Indonesia. Ada skenario tingkat tinggi yang ingin menghancurkan Indonesia atau bahkan menghilangkan nama Indonesia sebagai negara bangsa, tegasnya. Konspirasi global ini, Djuyoto Suntani melihat, terus bergerak dan bekerja secara cerdas dengan menggunakan kekuatan canggih melalui penetrasi budaya, penyesatan opini, arus investasi, berbagai tema kampanye indah seperti demokratisasi, hak asasi manusia, kesetaraan gender, modernisasi, kebebasan pers, kemakmuran, kesejahteraan, sampai pada mimpi-mimpi indah lewat bisnis obat-obatan terlarang dengan segmen generasi muda.

    Penyebab utama kelima Indonesia akan??pecah? dalam penilaiannya adalah faktor nama. Apa yang salah dengan nama? Ternyata, nama Indonesia sesungguhnya berasal dari warisan kolonial Belanda yakni East-India atau India Timur alias Hindia Belanda. Kalangan tokoh politik Belanda tingkat atas malah sering menyebut Indonesia dengan singkatan: In-corporate Do/e-Netherland in-Asia atau kalau diartikan secara bebas
    nama Indonesia sama dengan singkatan Perusahaan Belanda yang berada di Asia. Pemberian nama Indonesia oleh Belanda memang memiliki agenda politik tersembunyi sebab Belanda tidak rela Indonesia menjadi bangsa dan negara yang besar. Nama orisinil kawasan negeri ini yang benar adalah Nusantara, yang berasal dari kata Bahasa Sansekerta Nusa (pulau) dan Antara. Artinya, negara yang terletak di antara pulau-pulau terbesar dan terbanyak di dunia sebab negara kita merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Bila para anak bangsa tahun 2015 mampu menyelamatkan keutuhan negeri ini sebagai satu bangsa, salah satu opsi adalah dengan penggantian nama dari Indonesia menjadi Nusantara. Nama Nusantara lebih relevan, orisinil, berasal dari jiwa bumi sendiri dan lebih membawa keberuntungan, pesan Djuyoto. Namun, karena perpecahan sudah di ujung tanduk, salah satu agenda dalam membangun komitmen baru sebagai bangsa dalam pandangannya adalah dengan cara (perlu direnungkan) mengganti nama Indonesia menjadi Nusantara. Karena, nama memiliki arti serta memberi berkah tersendiri. Tidak hanya nama Indonesia yang bisa menjadi penyebab negeri ini pecah, nama Jakarta pun ternyata ikut berpengaruh terhadap keutuhan republik ini.

    Nama Jakarta, Djuyoto mengungkapkan, memiliki konotasi negatif bagi sebagian besar masyarakat. Bila kita ingin menyelamatkan Indonesia dari ancaman perpecahan serta punya komitmen bersama untuk membawa negara ini menjadi negara besar yang dihormati dunia internasional, maka nama ibukota negara seyogianya dikembalikan kepada nama awalnya yaitu Jayakarta. Nama Jayakarta lebih tepat sebagai roh spirit Ke-Jaya-an Ibukota negara daripada nama Jakarta, sarannya.

    Penyebab terakhir pecahnya Indonesia adalah gonjang ganjing pemilihan Presiden tahun 2014. Dia menyatakan dalam Pilpres 2009 bisa saja sejumlah tokoh yang kalah masih mampu mengendalikan diri tapi gejolak massa akar rumput yang berasal dari massa pendukung ngak mau menerima kekalahan jago pilihannya. Mereka lalu mempersiapkan diri untuk maju bertarung lagi pada Pilpres 2014. Pilpres 2014 adalah puncak ledakan dashyat gunung es yang benar-benar membahayakan integrasi Indonesia. Menurut Djuyoto dari informasi yang ia peroleh di seluruh penjuru Tanah-Air, indikasi karena gengsi kalah bersaing dalam Pilpres Indonesia lantas mengambil keputusan radikal dengan mendeklarasikan negara baru bukanlah sekedar omong kosong tapi akan terbukti. Pergolakan alam negeri ini seperti gunung es yang tampak tenang di permukaan namun setiap saat pasti meletus dengan dashyat.

    Djuyoto Suntani menjelaskan, pada Pilpres 2014 bakal bermunculan figur dari berbagai daerah yang mulai berani bertarung memperebutkan kursi RI-1 untuk bersaing dengan tokoh nasional di Jakarta. Para tokoh daerah sudah dibekali modal setara dengan para tokoh nasional di Jakarta. Jika mereka kalah dalam Pilpres 2014, karena desakan massa pendukung, opsi lain adalah mendirikan negara baru, melepaskan diri dari Jakarta. Gonjang ganjing Indonesia sebagai bangsa akan mencapai titik didih terpanas pada Pilpres 2014. Jika kita tidak mampu mengendalikan keutuhan negeri ini, tahun 2015 Indonesia benar-benar pecah. Para Capres Indonesia 2014 yang gagal ramai-ramai akan pulang kampung untuk mendeklarasikan negara baru. Mereka merasa punya kemampuan, punya harga diri, punya uang, punya jaringan dan punya massa/rakyat pendukung. Perubahan dan pergolakan politik nasional pada tahun 2014 diperkirakan bisa lebih dashyat karena tidak ada lagi figur tokoh pemersatu yang dihormati dan diterima oleh seluruh bangsa.

    Agar Indonesia tidak pecah, dia menyerukan seluruh elemen bangsa untuk bersatu dan bersatu. Dia berharap seluruh bangsa menyadari ancaman yang ada di depan mata dan kemudian saling bergandengan tangan bersatu untuk menyelesaikan semua permasalahan bangsa. Djuyoto bilang buku ini ditulis sebagai peringatan dini, sebagai salah satu wujud untuk berupaya menyelamatkan Indonesia dari ancaman kehancuran. Dengan adanya buku ini diharapkan semoga anak-anak bangsa mulai menyadari bahwa hantu Indonesia pecah sudah berada di depan mata. Kalau sudah paham, diharapkan mulai tumbuh kesadaran dari dalam hati lalu secara bersama-sama mengambil langkah untuk mencegah.

    ke 17 negara itu antara lain.

    1.Naggroe Atjeh Darrusallam : Banda Atjeh
    2.Sumatra Utara : Medan
    3.Sumatra Selatan : Lampung
    4.Sunda Kecil : Jakarta
    5.Jamar (Jawa Madura) : Surakarta
    6.Yogyakarta : Yogyakarta
    7.Kalimantan Barat : Pontianak
    8.Kalimantan Timur : Samarinda
    9.Ternate Tidore : Ternate
    10.Sulawesi Selatan : Makassar
    11.Sulawesi Utara : Manado
    12.Nusa Tenggara : Mataram
    13.Flobamora & Sumba: Kupang
    14.Timor Leste : Dili
    15.Maluku Selatan : Ambon
    16.Maluku Tenggara : Tual
    17.Papua Barat : Jayapura
Leia Mais...
0

PREDIKSI INDONESIA DI TAHUN 2050

 

PREDIKSI INDONESIA

DI TAHUN 2050



KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan berkat-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.Adapun materi yang dapat saya berikan dalam pembahasan kali ini adalah mengenai Pendidikan Kewarganegaraan,yang lebih mengangkat materi mengenai “ Indonesia Tahun 2050”.
 Dimateri ini,saya mencoba menjelaskan beberapa aspek yang ada dalam materi ini,yaitu : *Politik serta strategi pembangunan tahun 2050
* Ideologi Indonesia tahun 2050
* Perekonomian Indonesia tahun 2050
* Sosial Budaya Indonesia tahun 2050
* Hankam Indonesia tahun 2050
            Dalam penyelesaian tugas ini,saya banyak mendapat bantuan dari beberapa pihak, maka dari itu saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Bapak Sri Waluyo selaku dosen materi Pendidikan Kewaganegaraan

            Kiranya pembahasan saya ini dapat berguna bagi kita semua,sebagai salah satu pedoman untuk memahami mengenai kondisi negara Indonesia ditahun 2050.





BAB I . PENDAHULUAN
Dalam pembahasan kali ini saya mencoba menjabarkan perkiraan apa saja yang akan dihadapi oleh Negara Indonesia di tahun 2050,mengangkat permasalahan itu adapun beberapa aspek yang akan kita bahas,yaitu :
* aspek politik dan strategi pembangunan
* aspek ideologi
* aspek ekonomi
* aspek sosial budaya,serta
* aspek hankam
Mencoba menjelaskan kondisi Negara Indonesia dari berbagai aspek diatas,akan membantu kita mengetahui bagaimana kondisi Negara Indonesia di tahun 2050,dari pengalaman masa kini bisa dikembangkan ke arah pemahaman-pemahaman yang membawa Negara Indonesia kedalam kondisi yang lebih baik lagi daripada saat ini.
Pemahaman tentang aspek-aspek Negara diatas,akan saya coba jabarkan,di samping itu juga akan saya bandingkan dengan kondisi keadaan Negara Indonesia saat ini.Kiranya bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita terhadap nilai-nilai integitas Negara Indonesia .
Sejarah peradaban manusia telah dengan jelas menunjukkan kepada kita, bahwa kekayaan sumberdaya alam (modal alam), warna kulit, dan kecerdasan intelektual sumberdaya manusia semata tidak menentukan keberhasilan sebuah bangsa menjadi bangsa yang maju, makmur, dan berpengaruh. .Sebuah bangsa lebih membutuhkan modal buatan yang disusun dari sikap, disiplin, integritas, kemauan bekerja keras, kepatuhan pada hukum dan peraturan, penghargaan kepada hak-hak orang lain, dan kegairahan untuk melakukan perbaikan terus menerus agar menjadi bangsa yang maju dan makmur.

BAB II. ISI / PEMBAHASAN
1.     Politik serta strategi pembangunan    tahun 2050
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperkirakan Indonesia akan menjadi negara maju pada tahun 2050, jika melakukan berbagai perubahan yang signifikan.

Untuk mencapai cita-cita tersebut ada beberapa langkah yang harus dilakukan, antara lain: * membangun bangsa dan negara secara terpadu dengan memberikan kelonggaran pada daerah untuk membangun dirinya
* memadukan sumber daya alam dengan sumber daya pengetahuan.
* menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai pertumbuhan yang berkeadilan.
* memperkokoh pertahanan dan kemandirian bangsa dan meningkatkan kerjasama Internasional yang konstruktif serta mendorong peran dan kontribusi semua elemen bangsa dalam pembangunan.

            Presiden juga menguraikan bahwa dalam jangka menengah yakni 10 tahun mendatang, sebelum menuju tahun 2050, ada beberapa target yang harus dicapai dalam pembangunan nasional untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.
            Target tersebut adalah pengurangan kemiskinan secara tajam, pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan, peningkatan good governance seraya menegakkan penerapan hukum, peningkatan sistem demokrasi yang harmoni serta memenangi kompetisi dalam globalisasi.

Dijelaskannya, dalam 10 tahun ke depan pengurangan kemiskinan menjadi prioritas utama dengan meningkatkan penghasilan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta menciptakan lapangan kerja, yang antara lain dilakukan dengan meningkatkan hubungan baik antara pemerintah, dunia usaha dan pekerja.
Selain itu, peningkatan ketahanan pangan dan ketahanan energi juga menjadi sasaran pemerintah serta mengajak pemerintah daerah dan masyarakat dalam membangun pertahanan dan keamanan yang stabil.
Optimis dan aktif
Sebagai masyarakat ,kitapun harus bersikap optimis dalam mengatasi segala masalah dalam rangka meningkatkan pembangunan nasional.
Selain itu,membangun sebuah bangsa dan negara tidak hanya menghadapi tantangan dari domestik saja, tetapi juga dari lingkungan global. Untuk itu,pemerintah terus berusaha terlibat aktif dalam hubungan baik secara kelembagaan maupun secara bilateral dengan berbagai negara lain.

2.   Ideologi Indonesia tahun 2050.
Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan "sains tentang ide".
Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu secara umum dan beberapa arah filosofis atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat.
Tujuan utama dibalik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif.
Ideologi adalah sistem pemikiran abstrak (tidak hanya sekadar pembentukan ide) yang diterapkan pada masalah publik sehingga membuat konsep ini menjadi inti politik. Secara implisit setiap pemikiran politik mengikuti sebuah ideologi walaupun tidak diletakkan sebagai sistem berpikir yang eksplisit.
Untuk kedepannya,di tahun 2050,Indonesia akan tetap berlandaskan ideologinya pada Pancasila,hal ini terbukti dari yang telah kita ketahui bahwa di Indonesia terdapat berbagai macam suku bangsa, adat istiadat hingga berbagai macam agama dan aliran kepercayaan. Dengan kondisi sosiokultur yang begitu heterogen dibutuhkan sebuah ideologi yang netral namun dapat mengayomi berbagai keragaman yang ada di Indonesia.Karena itu dipilihlah Pancasila sebagai dasar negara dan tetap akan seterusnya bertahan.
Ideologi Pancasila merupakan dasar negara yang mengakui dan mengagungkan keberadaan agama dalam pemerintahan. Sehingga kita sebagai warga negara Indonesia tidak perlu meragukan konsistensi atas Ideologi Pancasila terhadap agama. Tidak perlu berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi berbasis agama dengan alasan bahwa ideologi Pancasila bukan ideologi beragama. Ideologi Pancasila adalah ideologi beragama.        Sesama umat beragama seharusnya kita saling tolong menolong. Tidak perlu melakukan permusuhan ataupun diskriminasi terhadap umat yang berbeda agama, berbeda keyakinan maupun berbeda adat istiadat.Hanya karena merasa berasal dari agama mayoritas tidak seharusnya kita merendahkan umat yang berbeda agama ataupun membuat aturan yang secara langsung dan tidak langsung memaksakan aturan agama yang dianut atau standar agama tertentu kepada pemeluk agama lainya dengan dalih moralitas.
Hendaknya kita tidak menggunakan standar sebuah agama tertentu untuk dijadikan tolak ukur nilai moralitas bangsa Indonesia . Sesungguhnya tidak ada agama yang salah dan mengajarkan permusuhan.Agama yang diakui di Indonesia ada 5, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu.Sebuah kesalahan fatal bila menjadikan salah satu agama sebagai standar tolak ukur benar salah dan moralitas bangsa. Karena akan terjadi chaos dan timbul gesekan antar agama. kalaupun penggunaan dasar agama haruslah mengakomodir standar dari Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu bukan berdasarkan salah satu agama entah agama mayoritas ataupun minoritas.




3.   Perekonomian Indonesia tahun 2050
Dasar perhitungannya adalah perbandingan Gross Domestic Product (GDP) berbagai negara untuk memprediksi posisi perekonomian negara tersebut. Kesimpulannya, pada tahun 2050, perekonomian Indonesia berada pada urutan ke tujuh di Dunia.
Berikut ini urutan 10 besarnya:
1. China ($70.710 m)
2. Amerika Serikat ($38.514 m)
3. India ($37.668 m)
4. Brazil ($11.366 m)
5. Meksiko ($9.340 m)
6. Rusia ($8.580 m)
7. Indonesia ($7.010 m)
8. Jepang ($6.677 m)
9. Inggris ($5.133 m)
10. Jerman ($5.024 m)
Sebelumnya pada tahun 2030, perekonomian Indonesia diprediksi berada pada urutan ke 14 di Dunia dengan urutan 15 besarnya sebagai berikut:
1. China ($25.610 m)
2. Amerika Serikat ($22.817 m)
3. India ($37.668 m)
4. Jepang ($5.814 m)
5. Rusia ($4.265 m)
6. Jerman ($3.761 m)
7. Brazil ($3.720 m)
8. Inggris ($3.595 m)
9. Perancis ($3.306 m)
10. Meksiko ($3.068 m)
11. Italia ($2.950 m)
12. Korea Selatan ($2.241 m)
13. Kanada ($2.061 m)
14. Indonesia ($1.479 m)
15. Turki ($1.279 m)
Indonesia semakin masuk ke radar para analis dan pengambil keputusan di berbagai belahan dunia dan memiliki prospek yang semakin menarik.Apakah Indonesia saat ini menuju ke arah sana dan track yang dilalui telah sesuai dengan prediksi paper tersebut?
Kondisi riil perekonomian Indonesia tahun 2006 telah melewati prediksi paper tersebut. Pada tahun 2006, Indonesia diprediksi memiliki GDP $350 miliar, kenyataannya GDP kita pada tahun 2006 telah mencapai $366 miliar ($16 miliar lebih besar).  
Artinya Indonesia bukan hanya on the track tapi jauh lebih bagus. Dengan kondisi ini, tampaknya posisi 7 besar dunia bisa diperoleh sebelum 2050, mungkin 2040 atau 2045. Sekalipun demikian, prediksi tersebut
tetap harus dibaca secara lebih komprehensif, karena GDP sekalipun merupakan variable fundamental dalam semua perhitungan ekonomi suatu negara tetap harus di-breakdown dengan variable lain untuk mendapatkan kesimpulan yang memadai, seperti indikator GDP per capital misalnya
Meskipun ekonomi adalah isu utama di negeri ini, bukan berarti kita bisa melalaikan isu-isu yang lain. Di sini ekonomi bukan merupakan isu tunggal penentu kesejahteraan -yang berarti penyelesaian isu ekonomi adalah penyelesaian permasalahan bangsa secara keseluruhan. Kesejahteraan juga ditentukan oleh faktor-faktor non-ekonomi yang sangat berkaitan erat dengan ekonomi itu sendiri.
Kita menyadari akan hal itu. Akan tetapi dalam beberapa minggu terakhir ini kita malah sibuk membahas isu-isu ekonomi yang tidak penting. Misalnya diskusi dan kajian tentang neoliberal yang marak di lembaga-lembaga formal maupun non-formal. Bukankah ini sesuatu yang tidak relevan? Ini bukan suatu solusi.Kita masih punya isu-isu lainnya yang lebih layak dan mendesak untuk dicarikan solusinya. Yang kesemuanya berkaitan erat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan nasional yang telah kita cita-citakan sejak republik ini didirikan

4.      Sosial Budaya Indonesia tahun 2050
Sejumlah pakar memperkirakan manusia menyebabkan musnahnya 140.000 spesies setiap tahunnya. Tahun 2050, dunia akan kehilangan 30 persen spesies yang menghuni bumi. Tapi, pesan kampanye sangat sulit untuk disebarkan mengingat separuh lebih penduduk dunia hidup di perkotaan, terlindung dari alam. Padahal, kota-kota besar termasuk bagian dari permasalahan, manusia hidup di lingkungan yang semakin lama semakin urban dan mengorbankan alam. Karena itu,perang untuk kelanjutan hidup di dunia akan ditentukan di kota-kota di tahun-tahun mendatang.
5.      Hankam Indonesia tahun 2050
Untuk menyelmatakna bumi Indonesia sampai dengan tahun 2050 nanti,sedikitnya limabelas ribu pohon produktif ditanam di berbagai lokasi lahan kosong milik satuan-satuan TNI-AL yang berada di Surabaya .
Menurut Kadispenal, Laksamana Pertama Iskandar Sitompul, penanaman pohon tersebut, merupakan salah satu upaya TNI AL dalam mengantisipasi pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan dan juga mengingat kondisi negara di awal tahun 2050 nanti.selain itu ,dia menyampaikan bahwa lahan-lahan kosong dan tidak produktif yang berada di lingkungan TNI AL akan ditanami beragam tanaman seperti pohon mangga, nangka, sawo kecik dan songgo langit.
Ini merupakan upaya yang dilakukan TNI agar Indonesia di tahun 2050 tetap berada dan berdiri tegak bersama TNI yang selama ini selalu berada mendampingi negara,baik melalui darat,laut maupun udara

BAB III.KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas,Indonesia diharapkan bisa tetap meningkatkan kondisi politik dan juga strategi pembangunannya,agar menjadi bangsa yang baik untuk generasi anak cucu kita,untuk ideologi Indonesia,Pancasila akan tetap berdiri tegak sebagai dasar negara yang sudah berpuluh-puluh tahun mendampingi negara indonesia,dimana Pancasila menciptakan kerukunan antar masyarakatnya
Untuk kondisi perekonomiannya di tahun 2050 nanti,dari kondisi diharapkan Indonesia bisa lebih baik lagi dalam aspek ini,karena kondisi perekonomian yang baik akan menciptakan stabilitas keuangan negara yang baik dan untuk memajukan negara sejajar dangan bangsa-bangsa yang sudah maju perekonomiannya
Kemudian untuk kondisi sosial budayanya,Indonesia diharapkan tetap bisa mempertahankan budaya yang sudah ada sampai dengan batas waktu di tahun 2050 agar segala perjalanan sejarah Indonesia tetap ada untuk generasi penerus kita nantinya,tentu saja itu semua tidak lepas dari pengetahuan yang ada dan untuk kondisi pertahanan dan keamanan negara,TNI tetap akan berdiri,untuk kemudian bisa lebiih baik lagi di tahun 2050 nantinya,guna melindungi serta mengayomi masyarakat Indonsia dari serangan-serangan bangsa lain,baik dari darat,laut maupun udara .
















Leia Mais...
0

Ibukota? Tetap Jakarta atau pindah

Senin, 15 November 2010.

Ibukota? Tetap Jakarta atau pindah

jakarta
Jumlah warga Jakarta mencapai delapan juta orang dan terus bertambah
Jakarta dengan luas sekitar 650 km2 kini menampung penduduk setidaknya 8 juta jiwa, yang terus bertambah setiap tahun.
Bahkan pada saat jam kerja sehari-hari, Jakarta dapat penambahan sekitar 4 juta yang datang dari kawasan luar Jakarta -seperti Bekasi, Tangerang, Depok- untuk mencari nafkah di Jakarta.

 

Sebagai kota pusat pemerintahan dan sekaligus menjadi pusat perekonomian Indonesia, Jakarta memang menjadi magnet bagi banyak orang.
Namun pada saat bersamaan pembangunan pra sarana di Jakarta sepertinya tidak mampu lagi menampung beban yang meningkat terus setiap tahunnya.
Banjir, misalnya, sudah menjadi rutinitas tahunan di sejumlah kawasan, sementara kemacetan pada jam tertentu dan di tempat tertentu sudah dilihat sebagai kewajaran.
Tak sedikit pula warga Jakarta yang hidup kawasan pemukiman yang tidak layak dari segi sanitasi maupun sosial.
Menumpuknya berbagai masalah ini menimbulkan kembali wacana pemindahan ibukota, yang pernah dilontarkan oleh Presiden Sukarno pada tahun 1956 kala meresmikan kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Namun gagasan ini tetap mengundang kontroversi karena sebagian mempertanyakan efektifitas pemindahan ibukota sementara yang lain berpendapat Jakarta sudah tidak mampu lagi menanggung bebannya.
Laporan khusus tentang Jakarta bisa anda ikuti di Duna Pagi ini BBC Indonesia pukul 05.00 WIB, Senin 25 Oktober hingga Jumat 29 Oktober 2010.
Kami juga mengundang saran anda atas Jakarta, maupun pendapat anda: apakah anda setuju ibukota dipindahkan atau tetap di Jakarta.

Jakarta, ibukota dengan 1.000 masalah

Kemiskinan adalah salah satu permasalahan yang dihadapi Jakarta. Pemukiman-pemukiman kumuh seperti ini mudah ditemui di berbagai sudut kota.
Sejak 49 tahun lalu, Sumanta penduduk asli Jakarta nyaris tidak pernah meninggalkan kota kelahirannya ini.
Bagi Sumanta, sebagian lika-liku Jakarta beserta segala masalahnya sudah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari.
Apalagi dengan profesinya sebagai tukang ojek, Sumanta harus bersahabat dengan kondisi Jakarta yang kerap dirundung masalah antara lain kemacetan dan banjir.
Namun, seperti jutaan warga Jakarta lainnya, Sumanta mau tidak mau harus berkompromi dan menerima kondisi Jakarta yang terus bermasalah.

Populasi berlebihan

Kemacetan menjadi problem Jakarta yang belum terpecahkan.
Jakarta, ibu kota dan juga kota terbesar di Indonesia, memiliki penduduk lebih dari 9,5 juta jiwa berdasarkan hasil sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah penduduk Jakarta saat ini.
Padahal banyak pengamat perkotaan mengatakan Jakarta sebenarnya hanya dirancang untuk dihuni maksimal tujuh juta jiwa.
Tak pelak pertumbuhan penduduk yang tak terkendali ini membuat masalah terus muncul di ibukota, salah satunya adalah kemacetan lalu lintas yang semakin hari kian memanjang.
Dari berbagai data menunjukkan, jumlah seluruh kendaraan bermotor di Jakarta ternyata jauh lebih banyak ketimbang jumlah penduduknya.
Padahal, jumlah kendaraan bermotor terus tumbuh rata-rata 10-15% tiap tahun. Celakanya, kondisi ini tidak diimbangi dengan panjang jalan yang hanya bertambah 0,01% tiap tahun.
Hasilnya adalah hampir tiada hari tanpa kemacetan di Jakarta. Mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso suatu ketika pernah mengatakan tanpa ada penanganan serius maka tahun 2014 Jakarta akan menderita sebuah kemacetan total.

Drainase buruk

Tak berimbangnya jumlah kendaraan bermotor dan panjang jalan raya bukan satu-satunya penyebab kemacetan. Di kala hujan turun air menggenang yang langsung berimbas pada kemacetan lalu lintas.
Banjir Jakarta disebabkan buruknya sistem drainase kota.
Genangan air ini disebabkan buruknya penataan dan perawatan sistem drainase Jakarta yang nyaris tak berkembang sejak 30 tahun silam.
Namun, mengembangkan sistem drainase yang baik ternyata tidak murah. Triliunan rupiah perlu dianggarkan untuk membangun sistem drainase baru. Sehingga pemerintah lebih menyukai opsi perawatan yang lebih irit biaya.
"Saya setuju dengan perawatan, perombakan atau desain ulanglah. Tapi seperti Anda bilang tadi butuh triliunan rupiah. Itu idealnya," kata Kepala Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Tarjuki.
"Tapi ada solusi lain untuk mengoptimalkan sistem drainase kita itu. Misalnya saluran yang kecepatan mengalirnya sudah rendah kita tambah pompa supaya mengalirnya cepat," tambah Tarjuki.
Namun, Direktur Institut Hijau Indonesia, Slamet Daroyni, menegaskan seharusnya besarnya biaya jangan dijadikan alasan.
"Soal biaya ini kan relatif. Tahun 2007 lalu saat Jakarta tenggelam oleh banjir kerugian yang diderita mencapai Rp 5,7 triliun," papar Daroyni.
"Saat itu, APBD Jakarta tahun 2007 mencapai 21 triliun. Itu artinya, hampir 25% dana itu habis untuk melakukan perbaikan kota Jakarta," tegasnya.

Jakarta harus pindah?

Belum adanya formula jitu mengatasi berbagai problem di Jakarta membuat wacana untuk mencari ibukota baru kembali muncul.
Kalau Jakarta ditinggal tanpa menyelesaikan masalahnya, sama saja kita menyediakan bom waktu
Nirwono Yoga
Bahkan wacana ini menjadi serius ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut melontarkan opsi ini beberapa waktu lalu.
Namun, pengamat perkotaan Nirwono Yoga mengatakan memindahkan ibukota atau pusat pemerintahan ke lokasi baru tidak akan menyelesaikan masalah yang dialami Jakarta saat ini.
"Kalau Jakarta ditinggal tanpa menyelesaikan masalahnya, sama saja kita menyediakan bom waktu," kata Nirwono.
Sebab, lanjut Nirwono, jika memindahkan ibukota atau pusat pemerintahan dipindah di dekat Jakarta maka kota baru itu akan tetap tergantung pada Jakarta.
Apalagi, pembangunan sebuah pusat pemerintahan baru -mengacu pada biaya pembangunan kota Putrajaya, Malaysia- bisa memakan biaya tak kurang dari Rp 80 triliun.
"Dengan energi yang ada dan dengan dana Rp 80 triliun mengapa tidak kita benahi Jakarta secara total? Karena itu akan lebih menghemat waktu, tenaga dan biaya," tandas Nirwono.

Memindahkan ibukota bukan gagasan baru

Presiden Soekarno dan penerusnya Soeharto pernah mewacanakan untuk memindahkan ibukota Indonesia dari Jakarta.
Pemindahan pusat pemerintahan atau ibukota bukan tidak pernah dilakukan Indonesia.
Dengan berbagai alasan, setidaknya sudah dua kali Indonesia tercatat memindahkan ibukotanya dari Jakarta ke Yogyakarta dan Bukit Tinggi, Sumatera Barat.
Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, kedua perpindahan itu harus dilakukan akibat kondisi politik yang tidak memungkinkan untuk mempertahankan Jakarta sebagai ibukota.
"Ibaratnya seperti bencana alam, nggak ada pilihan. Harus pindah walaupun dalam kondisi apapun," terang Asvi kepada BBC Indonesia.
Yogyakarta menjadi ibukota Indonesia pada 4 Januari 1946 sampai 27 Desember 1949. Di Yogyakarta, Presiden Sukarno berkantor di Gedung Agung yang berperan menjadi istana kepresidenan.
Namun, kondisi istana presiden di Yogyakarta saat itu sangat jauh dari mencukupi.
"Waktu ada jamuan untuk delegasi India ke Yogyakarta, pihak istana harus meminjam berbagai perlengkapan jamuan. Taplak meja pinjam dari tetangga di sekitar istana, piring dari restoran di dekat istana," papar Asvi menjelaskan betapa terbatasnya fasilitas di Yogyakarta.
Dan, lanjut Asvi, pemerintah Indonesia saat itu mempersiapkan Bukit Tinggi menjadi ibukota alternatif jika Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.
"Tapi kemudian PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) tidak di Bukit Tinggi, tapi bergerak di seluruh Sumatera karena dikejar-kejar Belanda. Jadi Yogya dan Bukit Tinggi itu pernah (jadi ibukota)," tambah Asvi.

Pasca perjuangan

Usai perang kemerdekaan, ternyata pemerintah terutama Presiden Sukarno tetap berencana memindahkan ibukota dari Jakarta.
Pada tahun 1957, Presiden Sukarno meresmikan berdirinya kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Dan dengan alasan geo-politis pemerintah menilai kota yang baru dibangun ini cocok menjadi ibukota baru Indonesia.
Bung Karno sudah memikirkan Palangkaraya akan menjadi kota yang pluralis
Asvi Marwan Adam
Presiden Sukarno -yang pernah mengunjungi kota ini dua kali- menilai Palangkaraya yang berposisi relatif di tengah-tengah Indonesia berpotensi untuk menggerakkan pembangunan khususnya ke arah timur Indonesia.
Tak hanya itu, Bung Karno bahkan merancang sendiri kota yang diimpikannya menjadi ibukota masa depan Indonesia.
"Malah dia membayangkan di pusat kotanya itu ada jalan raya seperti di Jakarta ada bundaran HI dan Tugu Selamat datang. Di tengah Palangkaraya sudah dibangun sebuah bundaran yang dilengkapi enam persimpangan jalan," jelas Asvi.
Dan, lanjut Asvi, di tiap ujung persimpangan itu Bung Karno merancang akan menempatkan satu rumah ibadah yang mewakili tiap agama di Indonesia.
"Jadi Bung Karno sudah memikirkan Palangkaraya akan menjadi kota yang pluralis," tambah Asvi.
Palangkaraya nampaknya memang dirancang untuk dikembangkan menjadi sebuah kota besar bahkan mungkin metropolitan.
Rencana kawasan pembangunan kota Palangkaraya mencakup areal seluas 2.600 km persegi atau tiga kali lipat luas Jakarta saat ini.
Dengan areal seluas itu maka Palangkaraya dianggap mampu menanggung beban sebuah kota metropolitan. Apalagi, kota ini terletak di Pulau Kalimantan yang relatif beresiko lebih kecil dari ancaman potensi gempa atau ancaman gunung berapi.
"Dan saat ini kawasan yang sudah dibangun baru sekitar enam kali enam kilometer persegi," kata dosen arsitektur Universitas Palangkaraya Wijanarka ST.

Butuh kepemimpinan

Pemerintah harus berani memutuskan soal kepastian pemindahan ibukota.
Sayangnya, ide Presiden Sukarno itu menguap begitu saja. Selain karena secara ekonomi saat itu Indonesia belum cukup kuat, dan pemerintah pun semakin disibukkan isu-isu politik yang lebih besar.
Wacana pemindahan ibukota kembali muncul di masa pemerintahan Presiden Suharto. Sekitar akhir dekade 1980-an muncuk ide memindahkan ibukota ke Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Awalnya ide ini disambut baik, Jonggol dari sudut lokasi dianggap ideal untuk memecah beban Jakarta. Namun, wacana ini tidak berlanjut seiring dengan tumbangnya rezim Orde Baru.
Alasan politis nampaknya menjadi sebab kegagalan Palangkaraya dan Jonggol menjadi ibukota atau pusat pemerintahan baru Indonesia.
Namun Rektor Universitas Indonesia, Gumilar Rusliwa Somantri, menilai gagalnya pemindahan ibukota secara sosial tidak ada satu orangpun yang menginginkan pemindahan ini.
"Tentu saja ada reluctancy, penolakan untuk pindah. Biasanya ini terkait dengan hal mendasar dalam diri banyak orang. Ada kecenderungan tidak mudah menerima gagasan baru dan pindah ke sesuatu hal baru dalam kehidupan," kata Gumilar yang juga pakar sosiologi perkotaan ini.
Sehingga, diperlukan sebuah kepemimpinan kuat untuk mewujudkan wacana besar seperti ide pemindahan ibukota.
"Leadership, merupakan hal yang penting. Saya kira seorang pemimpin harus dibekali kajian. Dan saya kira kajian itu tidak perlu dilakukan terlalu lama. Libatkan ahli untuk melihat berbagai aspek dan putuskan," tegas Gumilar.
Di saat Jakarta berada di ambang ancaman over populasi, ancaman banjir besar, ancaman kemacetan total maka seorang pemimpin yang berani mengambil sebuah keputusan besar sangat dibutuhkan.
Dan hingga kini keputusan itu belum kunjung dibuat.
Leia Mais...
0

Inilah Rencana SBY Tentang Pemindahan Ibukota Negara Indonesia dari Jakarta

Inilah Rencana SBY Tentang Pemindahan Ibukota Negara Indonesia dari Jakarta


Quantcast


SBY tengah memikirkan lokasi baru pusat pemerintahan. Kalau seperti Malaysia itu tanggung dan tidak sepenuh hati. Cuma 40 km. Sehingga sebagian tidak pindah rumah dan akhirnya jadi jauh dan macet.
Harusnya seperti Brazil yang memindahkan ibukotanya begitu jauh dari Rio de Janeiro ke Brasilia, atau Amerika Serikat dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin.
Karena jauh akhirnya pada pindah rumah. Kalau dekat, misalnya di Jonggol atau Sentul, niscaya orang Tangerang, Bogor, Jakarta, Bekasi, Depok tetap tinggal di rumahnya dan berkantor di ibukota baru. Jalan jauh dan kemacetan pun terus berlangsung.
Pemindahan Ibukota Negara Indonesia dari Jakarta
Pertama-tama kita harus sadar bahwa pemindahan ibukota dari satu kota ke kota lain adalah hal yang biasa dan pernah dilakukan. Sebagai contoh, Amerika Serikat pernah memindahkan ibukota mereka dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin, sementara Brazil memindahkan ibukotanya dari Rio de Janeiro ke Brasilia. Indonesia sendiri pernah memindahkan ibukotanya dari Jakarta ke Yogyakarta.
Over Populasi (Jumlah penduduk melebihi daya tampung) merupakan penyebab utama kenapa banyak negara memindahkan ibukotanya. Sebagai contoh saat ini Jepang dan Korea Selatan tengah merencanakan pemindahan ibukota negara mereka. Jepang ingin memindahkan ibukotanya karena wilayah Tokyo Megapolitan jumlah penduduknya sudah terlampau besar yaitu: 33 juta jiwa. Korsel pun begitu karena wilayah kota Seoul dan sekitarnya jumlah penduduknya sudah mencapai 22 juta. Bekas ibukota AS, New York dan sekitarnya total penduduknya mencapai 22 juta jiwa. Jakarta sendiri menurut mantan Gubernur DKI, Ali Sadikin, dirancang Belanda untuk menampung 800.000 penduduk. Namun ternyata di saat Ali menjabat Gubernur jumlahnya membengkak jadi 3,5 juta dan sekarang membengkak lagi hingga daerah Metropolitan Jakarta yang meliputi Jabodetabek mencapai total 23 juta jiwa.
Jadi pemindahan ibukota bukanlah hal yang tabu dan sulit. Soeharto sendiri sebelum lengser sempat merencanakan pemindahan ibukota Jakarta ke Jonggol.
Kenapa kita harus memindahkan ibukota dari Jakarta? Apa tidak repot? Apa biayanya tidak terlalu besar? Jawaban dari pertanyaan ini harus benar-benar tepat dan beralasan. Jika tidak, hanya buang-buang waktu, tenaga, dan biaya.
Pertama kita harus sadar bahwa ibukota Jakarta di mana lebih dari 80% uang yang ada di Indonesia beredar di sini merupakan magnet yang menarik penduduk seluruh dari Indonesia untuk mencari uang di Jakarta. Arus urbanisasi dari daerah ke Jakarta begitu tinggi. Akibatnya jika penduduk Jakarta pada zaman Ali Sadikin tahun 1975-an hanya sekitar 3,5 juta jiwa, saat ini jumlahnya sekitar 10 juta jiwa. Pada hari kerja dengan pekerja dari wilayah Jabotabek, penduduk Jakarta menjadi 12 juta jiwa.
Jumlah penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diperkirakan sekitar 23 juta jiwa. Padahal tahun 1986 jumlahnya hanya sekitar 14,6 juta jiwa (MS Encarta). Jika Jakarta terus dibiarkan jadi ibukota, maka jumlah ini akan terus membengkak dan membengkak. Akibatnya kemacetan semakin merajalela. Jumlah kendaraan bertambah. Asap kendaraan dan polusi meningkat sehingga udara Jakarta sudah tidak layak hirup lagi. Pohon-pohon, lapangan rumput, dan tanah serapan akan semakin berkurang diganti oleh aspal dan lantai beton perumahan, gedung perkantoran dan pabrik. Sebagai contoh berbagai hutan kota atau tanah lapang di kawasan Senayan, Kelapa Gading, Pulomas, dan sebagainya saat ini sudah menghilang diganti dengan Mall, gedung perkantoran dan perumahan.
Hal-hal di atas akan mengakibatkan:
1. Jakarta akan jadi kota yang sangat macet
2. Dengan banyaknya orang bekerja di Jakarta padahal rumah mereka ada di pinggiran Jabotabek, akan mengakibatkan pemborosan BBM. Paling tidak ada sekitar 6,5 milyar liter BBM dengan nilai sekitar Rp 30 trilyun yang dihabiskan oleh 2 juta pelaju ke Jakarta setiap tahun.
3. Dengan kemacetan dan jauhnya jarak perjalanan, orang menghabiskan waktu 3 hingga 5 jam per hari hanya untuk perjalanan kerja.
4. Stress meningkat akibat kemacetan di jalan.
5. Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) juga meningkat karena orang berada lama di jalan dan menghisap asap knalpot kendaraan
6. Banjir dan kekeringan akan semakin meningkat karena daerah resapan air terus berkurang.
7. Jumlah penduduk Indonesia akan terpusat di wilayah Jabodetabek. Saat ini saja sekitar 30 juta dari 200 juta penduduk Indonesia menempati area 1500 km2 di Jabodetabek. Atau 15% penduduk menempati kurang dari 1% wilayah Indonesia.
8. Pembangunan akan semakin tidak merata karena kegiatan pemerintahan, bisnis, seni, budaya, industri semua terpusat di Jakarta dan sekitarnya.
9. Tingkat Kejahatan/Kriminalitas akan meningkat karena luas wilayah tidak mampu menampung penduduk yang terlampau padat.
10. Timbul bahaya kelaparan karena over populasi dan sawah berubah jadi rumah, kantor, dan pabrik. Saat ini pulau Jawa yang merupakan pulau terpadat di dunia 7 x lipat lebih padat daripada RRC. Kepadatan penduduk di Jawa 1.007 orang/km2 sementara di RRC hanya 138 orang/km2. Tak heran di pulau Jawa banyak orang yang kelaparan dan makan nasi aking.
Untuk itu diperlukan penyebaran pusat kegiatan di berbagai kota di Indonesia. Sebagai contoh, di AS pusat pemerintahan ada di Washington DC yang jumlah penduduknya hanya 563 ribu jiwa. Sementara pusat bisnis ada di New York dengan populasi 8,1 juta. Pusat kebudayaan ada di Los Angeles dengan populasi 3,9 juta. Pusat Industri otomotif ada di Detroit dengan jumlah penduduk 911.000 jiwa.
Di AS kegiatan tersebar di beberapa kota. Tidak tertumpuk di satu kota. Sehingga pembangunan bisa lebih merata.
Indonesia juga harus begitu. Semua kegiatan jangan terpusat di Jakarta. Jika tidak, maka jumlah penduduk kota Jakarta akan terus membengkak. Dalam 10-20 tahun, Jakarta akan jadi kota yang mati/semrawut karena jumlah penduduk yang terlampau banyak (saat ini saja kemacetan sudah luar biasa).
Biarlah Jakarta cukup menjadi pusat bisnis. Untuk pusat pemerintahan, sebaiknya dipindahkan ke Kalimantan Tengah.
Kenapa Kalimantan Tengah? Kenapa tidak di Jawa, Sulawesi, atau Sumatra?
Pertama Jawa adalah pulau kecil yang sudah terlampau padat penduduknya. Luas pulau Jawa hanya 134.000 km2 sementara jumlah penduduknya sekitar 135 juta jiwa. Kepadatannya sudah mencapai lebih dari 1.000 jiwa per km2. Apalagi pulau Jawa yang subur dengan persawahan yang sudah mapan seharusnya dipertahankan tetap jadi lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan di Indonesia. Kalau dipaksakan di Jawa, maka luas sawah akan berkurang sebanyak 50.000 hektar! Produksi beras/pangan lain akan berkurang sekitar 200 ribu ton per tahun! Indonesia akan semakin kekurangan pangan karenanya. Selama ibukota tetap di Jawa, pulau Jawa akan semakin padat dan pembangunan tidak tersebar ke seluruh Indonesia. Jawa sudah kebanyakan penduduk/over-crowded!
Ada pun pulau Sumatera letaknya relatif agak di Barat. Dengan jumlah penduduk lebih dari 42 juta, pembangunan di Sumatera sudah cukup lumayan.
Sulawesi dengan luas 189.000 km2 dan jumlah penduduk sekitar 15 juta jiwa masih terlalu kecil wilayahnya. Sumatera dan Sulawesi adalah pulau yang subur dan cocok untuk pertanian. Jadi sayang jika pertumbuhan jumlah penduduk dipusatkan di situ. Belum lagi kedua wilayah ini rawan dengan gempa bumi dan tsunami.
Ada pun Kalimantan luasnya 540.000 km2 dengan jumlah penduduk hanya 12 juta jiwa. Pulau Kalimantan jauh lebih luas dibanding pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi dan jumlah penduduknya justru paling sedikit.
Di pulau Kalimantan juga tidak ada gunung berapi dan merupakan pulau yang teraman dari gempa. Sementara di pesisir Kalimantan Tengah yang berbatasan dengan Laut Jawa juga ombak relatif tenang dan aman dari Tsunami. Ini cocok untuk jadi tempat ibukota Indonesia yang baru.
Sebaliknya Jakarta begitu dekat dengan gunung Krakatau yang ledakkannya 30 ribu x bom atom Hiroshima dengan tsunami setinggi 40 meter. Efek ledakan Krakatau terasa sampai Afrika dan Australia. Sekarang gunung Krakatau yang dulu rata dengan laut telah “tumbuh” setinggi 800 meter lebih dengan kecepatan “tumbuh” sekitar 7 meter/tahun. Sebagian ahli geologi memperkirakan letusan kembali terulang antara 2015-2083. Jadi Jakarta tinggal “menunggu waktu” saja…
Leia Mais...
 
Qomar Ca'Em © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |